WAYANG

Oleh: Keysha Almira Dofa Ramadhani

Terlihat dari kejauhan panggung megah yang berdiri di tengah tanah lapang. Rupanya, di tempat itu sedang digelar pagelaran wayang kulit. Ki Enthus dalangnya. Pagelaran berlangsung meriah. Antusias dan harsa para warga sangat menghibur sang dalang. Setelah pagelaran tersebut berakhir, Ki Enthus bergegas menuju mobilnya. Ada janji yang harus beliau tunaikan kepada murid-murid  di padepokan wayang kulit miliknya. Sesampainya di rumah, terlihat bocah laki-laki yang langsung menghampiri sang dalang. Bocah itu terlihat sangat bergembira ketika Ki Enthus sudah kembali.

“Alhamdulillah Bapak sampun mulih,” ucap sang bocah sembari mencium tangan Ki Enthus.

Iyo, cah. Jam telu aku pan ngajar. Ngko koen mangkat ya!” balas Ki Enthus seraya menepuk bahu si bocah.

Tak lama kemudian, Ki Enthus masuk ke dalam rumahnya yang bak istana bernuansa adat Jawa. Kemudian, sang bocah mengambil sepatu Ki Enthus untuk dibersihkannya. Ia gunakan bajunya sebagai lap sepasang sepatu tersebut. Walaupun banyak dari temannya yang mengejek, bocah itu tidak gentar. Karena sejatinya, jauh di dalam kalbunya hanya ada darma untuk Ki Enthus Susmono, sang dalang beken dari Kota Bahari. Bocah itu bernama Bayu. Murid emas Ki Enthus. Tak hanya karena kepiawaiannya bermain wayang kulit, Bayu sudah dianggap seperti anak kandung oleh beliau. Sejujurnya, padepokan ini seperti tempat les pada umumnya. Membutuhkan uang untuk kelangsungan pelajarannya sekaligus sebagai pemasukan lain dari sang dalang. Namun tidak dengan Bayu. Ia digratiskan 100% untuk belajar bersama Ki Enthus. Alasan beliau klasik. Bayu adalah anak orang yang tidak punya. Bahkan ia sudah tak lagi memiliki orang tua dalam hidupnya. Sungguh miris nasib bocah baik hati nan setia itu. Tetapi, Bayu tidak ingin terus merepotkan dalang favoritnya itu. Ia pun berusaha mengerjakan apa yang ia bisa seperti membantu karyawan Ki Enthus membersihkan mobil hingga ikut merawat barang-barang kesenian wayang di rumah beliau.

Awalnya, Bayu bertemu Ki Enthus saat dia berusia 6 tahun. Bayu seringkali menonton Ki Enthus ketika sedang mengajari muridnya di padepokan. Sampai suatu hari, Ki Enthus menyadari kehadiran bocah tersebut. Dipanggilnya Bayu untuk masuk ke padepokannya.

Tong! Mene mlebu,” panggil Ki Enthus dengan kode tangan.

Bayu hanya mengangguk dan menurut untuk masuk ke dalam padepokan. Tangannya gemetar saat itu. Entah apa yang ia pikirkan, ia malah menangis tersedu-sedu di hadapan Ki Enthus dan murid-muridnya.

Lantas Ki Enthus bertanya, “Arep apa ning jaba miki, Tong?”

Bayu terus menangis dan tidak menjawab sepatah kata pun. Kembali Ki Enthus bertanya, “Sapa arane koen?” kali ini sang dalang mencoba menenangkan Bayu dengan menepuk-nepuk punggungnya.

“Bayu,” Jawabnya singkat.

Setidaknya, Ki Enthus sudah mengetahui nama bocah tersebut walaupun tujuannya datang kemari setiap hari masih merupakan tanda tanya. Ki Enthus pun berinisiatif memberikan Bayu wayang kulit yang sedang ia pegang dengan tujuan membuat Bayu terdiam. Tak diduga! Bayu bisa memainkan wayang tersebut dengan sangat piawai. Dilenggokkannya wayang tersebut ke kanan dan kiri sembari tertawa lepas. Ki Enthus tersenyum dan melihat Bayu memiliki potensi yang besar di dunia wayang kulit.

Tak lama setelah kelas wayang tersebut selesai, di dalam padepokan terlihat Bayu yang digendong oleh Ki Enthus. Di sana juga tampak simbah dari Bayu yang sedang ngendika dengan Ki Enthus. Dari percakapan tersebut, sang dalang mengetahui bahwa Bayu bukanlah anak beruntung. Bapaknya sudah meninggal sebelum ia dilahirkan. Sedangkan ibunya depresi dan memutuskan bunuh diri ketika Bayu masih membutuhkan minum air susu ibunya. Kini, ia tinggal berdua dengan simbah yang sudah renta dan jauh dari kata sehat. Ki Enthus hanyut dalam cerita Bayu sampai ia meneteskan air matanya. Didekapnya Bayu dengantangisanyang mengalir deras dari kelopak matanya. Menurut simbah, Bayu sangat mengidolakan Ki Enthus. Tak jarang Bayu memanggil Ki Enthus dengan sebutan Rama.

Mbah! Niku ramane Bayu nggih, Mbah? Rama wasis banget!” seru Bayu dengan tatapan penuh afeksi. Kurang lebih, seperti itu gambaran yang diceritakan oleh simbah. Simbah hanya bisa tersenyum mendengar cucunya terus menganggap Ki Enthus adalah bapaknya.

Beberapa tahun berlalu, kini Bayu sudah tumbuh menjadi remaja yang gagah dan tampan. Ia pun seringkali diajak manggung dengan Ki Enthus. Bayu biasanya menemani Ki Enthus di sampingnya. Sekedar menemani atau bahkan mengipasi Ki Enthus agar beliau tidak gerah. Setidaknya sampai di suatu hari yang bisa dibilang akhir dari karir gemilang sang dalang. Seperti biasa, Ki Enthus yang terkenal religius hendak menghadiri pengajian di salah satu desa di Kabupaten Tegal. Namun sayangnya, di perjalanan ia merasakan nyeri dada dan mual hingga sang dalang pun tak sadarkan diri. Bayu yang panik langsung mengarahkan sopir untuk menuju rumah sakit. Sayang seribu sayang, Ki Enthus harus menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Dr. Soeselo Kabupaten Tegal, Slawi.

Banyak atma yang berduka atas kejadian tersebut. Tak terkecuali Bayu. Karena Ki Enthus seorang bupati dari Kabupaten Tegal dan namanya yang sudah besar, banyak sekali warga biasa maupun pejabat daerah mendatangai kediaman almarhum. Bayu masih syok. Belum bisa ikut datang ke istana Ramanya. Ia terus dibayang-bayangi oleh bayangan Ki Enthus yang berlalu lalang di pikirannya. Akhirnya, Bayu pun memutuskan untuk datang ke sana menjelang pemakaman Rama pemilik asmaraloka dari dirinya sendiri. Walau bergetar, ia mencoba menguatkan diri.

Saat ikut mengantar Ramanya ke tempat peiristirahatan terakhir, Bayu memang tak menangis. Namun, ia merasa langit sangat gelap, tanah yang ia pijaki semakin lama semakin tak terlihat, pandangan Bayu buram, kakinya sukar untuk melangkah. Bayu pun terkulai lemah seperti tak memiliki kekuatan.  Ia terduduk di tanah sebab kakinya seperti tak kuat menopang kesedihan mendalam.

Sejenak, suara Ki Enthus terdengar samar-samar di telinganya,“Tong, aja sekan klalen ibadah ya. Tulung gawakna wayang kulit kie maring kancah internasional. Rama yakin koen pasti bisa.” Kalimat ini selalu menjadi pengingat bagi Bayu. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabulkan permintaan sang Rama.

Perlahan-lahan pandangan Bayu Kembali normal. Dirinya sudah lebih kuat sekarang. Meskipun jauh dalam hati kecilnya, ia masih belum mengikhlaskan Ramanya untuk pergi. Setidaknya, Bayu terus meyakini bahwa Ki Enthus akan selalu bersama dirinya walau raga almarhum sudah tak ada lagi. Dilihatnya tempat pemakaman sebagai kebun yang asri. Sangat bersih, sejuk dengan gemercik air yang meriuhkan suasana. Sepertinya, inilah yang dilihat ruh dari sang Rama saat ini. Bisa jadi Ki Enthus sendiri yang membuat Bayu semakin kuat dan tegar. Sesudah menguburkan almarhum di liang lahat, Bayu kembali ke rumahnya. Ia menatapi foto dirinya dengan sang Rama di salah satu pagelaran wayang.

Bayu menyentuh foto tersebut seraya berkata,“Rama, kula saestu, setunggaling dinten mangke ringgit purwa gadhahipun panjenengan ajeng rame dipun-ginemaken tiyang wonten sadayaning donya.”

Bayu tidak berkata bohong! Perlahan, Bayu mulai mencoba keberuntungannya menjadi seorang dalang. Dari membuat pagelaran wayang sendiri untuk anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya, Bayu semakin dikenal banyak orang. Walaupun tak sedikit pula dari mereka yang mencaci maki Bayu. Mengatakan Bayu dengan sebutan “Babunya Ki Enthus”. Bayu tak pernah mempedulikan cacian itu. Ini juga salah satu sikap yang diajarkan Ki Enthus. Bayu ingat betul bagaimana Ramanya itu menanggapi ejekan dari banyak pihak yang tidak menyukainya. Bayu benar-benar mengikuti jejak Ki Enthus. Bukan hanya profesi, dirinya juga selalu meniru sifat dan sikap sang dalang.

Berkat kesabaran dan keuletannya menekuni dunia pewayangan ini, Bayu mulai diundang untuk mengisi pagelaran wayang. Tapi, sayang sekali pentas perdana Bayu di atas panggung harus berakhir dengan tidak menyenangkan. Entah apa yang Bayu pikirkan, ia membuat alur cerita wayang itu terkesan tidak nyambung dan berputar-putar tanpa arah yang jelas.

Dalang model apa kie. Alur ceritane ngalor ngidul. Balik bae yuh. Ora apik ditonton. Nggo apa,” seru salah seorang penonton.

Iya keh. Ra kaya Ki Enthus. Wagu nemen ceritane,” sambung penonton dari arah pojok kanan.

Jarene tah muride Ki Enthus. Daning kaya kie yah? Wis lah wis balik bae balik!” balas yang lainnya menambahi.

Satu persatu penonton mulai meninggalkan tempat pagelaran tersebut. Bayu hanya bisa terdiam. Bahkan, pemain gamelan pun ikut menyoraki dirinya dari belakang. Bayu merunduk. Ia menangis. Rupanya, sedari tadi ia mengingat Ramanya. Bayu tidak bisa manggung dengan apik karena Ki Enthus terus ada di pikirannya. Sangat sulit bagi Bayu untuk mengikhlaskan kepergian Ramanya. Bayu terus mengingat Ki Enthus jika ia melihat wayang kulit yang merupakan jati diri sang dalang. Akibat dari kekacauan yang ia perbuat, Bayu tidak mendapatkan honornya dari pemilik acara sore itu. Bayu kembali ke rumah dengan tangan kosong dan perasaan yang campur aduk.

Sejenak Bayu terduduk dan terus memandangi wayang kulit yang sedari tadi ia genggam. Ia mengingat kata Ramanya saat itu, “Tong! Koen kuwe bocah apikan. Pinter dolanan wayang maning. Rama yakin koen pantes dadi dalang sing terkenal. Wis. Ra usah ngringokna wong liya. Koen ya koen. Pan belih lah wong liya pan ngomong apa. Ngko angger Rama wis laka, terus cekel wayang kiye ya. Buktikna karo wong wong, wayang bisa terkenal lewat koen.”

Nggih, Rama. Menika Rama saestu kula ugi saestu.”

Aja gampang nyerah ya. Dadi dalang memang kangelan. Apa maning angger koen durung duwe nama. Memang kabehane kudu dibarengi doa lan niat. Rama pesen maring koen, aja nganti ninggalna Allah. Manut apa bae sing diwenehi gusti Allah pasti ngko jalane ana dewek,” sambung Ki Enthus sembari tersenyum.

Tak lama, adzan berkumandang menandakan seluruh umat Islam telah dipanggil oleh Allah untuk melaksanakan ibadah sholat Maghrib. Bayu langsung bergegas mengambil air wudhu dan pergi ke mushola di dekat rumahnya. Sampai di mushola, Bayu mendapati banyak warga yang melihat ke arahnya dengan tatapan tidak suka. Bayu sadar. Ini adalah hukuman sosial untuknya dikarenakan kejadian sore tadi. Ia pun tetap memberikan senyuman dari bibirnya ke para warga yang sedang membicarakannya. Kemudian, Bayu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim di mushola tersebut. Setelah sholat Maghrib berjamaah selesai, Bayu mendatangi ustadz yang merupakan imam sholat tadi.

Bayu bertanya, “Nuwun sewu, Ustadz. Menapa kula ganggu?”

Sang Ustadz pun membalikan badannya menghadap Bayu seraya menjawab, “Mboten koh, Mas Bayu. Wonten menapa nggih?”

“Menika, Tadz. Wiwit tindakipun Rama, kula kados dereng sagedmengikhlaskan tindakipun Rama. Saben dinten bayangan Rama tansah dugi wonten sugeng kula. Menika saya ndamel kula sekel nguculi swargi, Keluh Bayu dengan raut wajah yang bersedih.

“Astaghfirullah, Mas Bayu kedah kathah-kathah istighfar. Kados puniki mas, estu ingkang asmanipun dipuntilaraken dening tiyang tersayang sisah sanget kangge dhiri kita. Punapa malih dipuntilaraken kanggesalami-laminipun kados puniki. Nanging, MasBayu kedah emut menawi Ramanipun MasBayu saged sedhih menawi Mas terus-terusan nangis lan dereng mengikhlaskan piyambakipun kangge tindak.” ucap sang Ustadz menguatkan  Bayu.

“Kuncinipun, nyaketaken dhiri dhateng Gusti Allah. Perbanyak amal ibadah lan sampun tilaraken sholat.” Sambung sang Ustadz.

Akhirnya, Bayu pun tersadar. Ia beterima kasih kepada Ustadz tersebut kemudian duduk di teras musholla sembari berdzikir. Bayu menyadari bahwa pertolongan Allah akan selalu ada untuknya. Setelah sekian lama berdiam diri di mushola tersebut, ia Kembali ke rumah dan mengemasi barang-barangnya. Rupanya, Bayu ingin memulai awal yang baru di daerah lain. Karena, untuk merubah pola pikir warga di sini sudah sulit baginya. Bayu tidak yakin akan diterima kembali setelah apa yang terjadi.

Dengan menggunakan mobil, Bayu pergi dari tanah kelahirannya dan meninggalkan seluruh kenangannya di daerah penghasil tahu aci tersebut. Bayu tidak pergi terlalu jauh hanya beberapa kilometer. Selamat Datang di Kota Pemalang. Begitu bunyi plang suatu jalan yang dimasuki olehnya. Di sini, Bayu memulai semuanya dari awal. Ia Mencoba menghilangkan luka-luka yang masih membekas di hatinya, hingga semakin mendekat kepada Yang Mahakuasa, ia lakukan semua itu di tanah yang dijuluki Kota Ikhlas ini. Berkat usahanya, Bayu kini menjadi salah satu dalang dengan honor tinggi di Jawa Tengah. Bayu terus diundang dari stasiun televisi satu ke stasiun televisilainnya. Tak terhitung berapa banyak acara yang sudah dihadiri olehnya saat ini.

Namun, Bayu belum merasa puas dengan semua itu. Karena, tujuannya tak lain membawa wayang kulit pemberian sang Rama ke kancah internasional. Dia pun  menjajal kemampuannya di America’s Got Talent dengan memainkan wayangnya. Ada yang berbeda di pertunjukan kali ini. Bayu membawakan wayang kulit dengan diiringi band. Ia tidak bersuara saat mementaskan wayangnya. Pertunjukan kali ini bertajuk The Sidelines of Indonesian’s Wayang. Sontak para juri menekan tombol emas penanda Bayu adalah pemenang dari ajang unjuk bakat ini. Bayu sukses mengabulkan permintaan Ki Enthus sekaligus membawa konsep baru dalam seni pewayangan di Indonesia. Selepas ia keluar dari gedung America’s Got Talent, banyak kamera yang menyorot sang pahlawan wayang dari Indonesia.

“You are so cool. What will you do after this?” tanya salah seorang wartawan.

“Visited my hero’s grave, Ki Enthus, and presented this trophy to him, jawabnya sembari tersenyum dan berjalan menuju mobilnya untuk segera kembali ke kampung halamannya dan sowan ke makam Rama, Sang Maestro bagi dirinya.

VAKSINASI, FOBIA JARUM SUNTIK, DAN KERINDUAN BERSEKOLAH

Salah satu siswi MAN Kota Tegal saat melakukan pendaftaran vaksinasi massal COVID-19 di lingkungan madrasah, Senin, 2 Agustus 2021.

Oleh: Dewi Nur Aghni Azzahro

Langkah kaki Ulia Rahmania terhuyung ketika menuju ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) di MAN Kota Tegal, Selasa (4/8/2021) pagi. Sebenarnya, siswa kelas XII MIPA 5 tersebut sudah sarapan nasi bungkus dengan lauk lele goreng plus sambal. Tapi kakinya seakan lemas tak berdaya ketika harus masuk ke ruang UKS yang menjadi tempat berlangsungnya vaksinasi siswa.

Ulia memang ciut nyali setiap kali berhadapan dengan jarum suntik. Sejak kecil, dirinya tak pernah mau disuntik oleh dokter. Namun, pagi itu, gadis berusia 16 tahun tersebut harus melawan rasa takutnya dengan jarum suntik demi menjalani vaksinasi jenis sinovac untuk pencegahan virus Corona ini.

Ketika dokter menghujamkan jarum suntik berdiameter 0,05 inchi ke lengan kirinya, sebenarnya Uliaingin beteriak sekeras-kerasnya. Tapi dia menahan hasratnya itu sekuat tenaga. Ulia tak ingin kehilangan muka di depan dokter yang menyuntiknya. Ia juga tidak mau menanggung malu jika teriakannya sampai didengar siswa-siswa lain yang mengantre di luar ruang UKS.

Hanya, Ulia tak bisa menyembunyikan wajah pucat pasinya. Matanya dipejamkan erat-erat. Sesekali Ulia menggertakkan gigi sambil menahan fobia akan jarum suntik. Hanya itu bisa dia lakukan untuk menenangkan diri, padahal hatinya terasa sedang dilempar granat.

“Sebenarnya takut, tapi kalau tidak vaksin, nanti enggak sekolah-sekolah,” ujar Ulia dengan polos.

Ulia dan siswa-siswa MAN Kota Tegal lain menyelipkan harapan besar ketika menjalankan vaksinasi itu. Mereka yakin vaksinasi ini merupakan jalan awal bisa kembali bersekolah dengan pembelajaran tatap muka (PTM). Hampir dua tahun lamanya, Ulia dan siswa lain di MAN Kota Tegal, bahkan di seluruh Indonesia, tak bisa menjalankan PTM secara normal. Musibah penyebaran virus Corona yang mematikan itu menghentikan kegiatan PTM.

Vaksinasi dosis pertama bagi siswa MAN Kota Tegal dilaksanakan selama 2-4 Agustus 2021. Sebanyak 369 dari 1.180 seluruh siswa MAN Kota Tegal telah mendapat vaksin dosis pertama. Dengan vaksinasi ini, diharapakan meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah diserang Covid-19.

“Semua guru telah divaksin, kini giliran siswa. Jika semua siswa dan guru selesai divaksin, harapannya tentu PTM bisa dilaksanakan secepatnya,” jelas Wakil Kepala MAN Kota Tegal bagian Kurikulum, Turati, M.Si.

Ya, rindu sekolah. Begitulah ungkapan perasaansebagian besar siswa MAN Kota Tegal. Para siswa ini mengaku sudah bosan dengan pembelajaran daring dan ingin sesegera mungkin diadakan PTM. Karena bagi mereka, secanggih apa pun media dan model pembelajaran daring, tetap tidak bisa lebih leluasa dibandingkan pembelajaran tatap muka. Siswa-siswa tersebut juga tidak bisa berinteraksi dengan langsung dengan guru maupun teman-teman.

Salah satu siswa yang mengalami kendala saat pembelajaran daring adalah Nurul Faradilah. Siswa kelas XII MIPA 5 ini harus keluar rumah, berlari ke sana ke mari demi mengakses sinyal internet ketika mengikuti pembelajaran secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting.

“Mungkin teman-teman yang lihat saya tertawa saat itu, karena waktu pelajaran pakai Zoom saya terlihat lari-lari keluar rumah. Susah sih sinyalnya. Untung gurunya enggak lihat dan tidak terlalu memerhatikan saya,” kenang Faradilah.

Sejumlah sekolah di Kota Tegal, termasuk MAN Kota Tegal, sebenarnya telah beberapa kali menjalankan uji coba PTM selama Pandemi Covid-19 ini. Uji Coba PTM Tahap I dilaksanakan pada April dan Tahap II dilaksanakan sebulan kemudian.

Protokol kesehatan (Prokes) pun diterapkan secara ketat pada Uji Coba PTM Tahap I dan Tahap II. Semua guru dan siswa diwajibkan mengenakan masker, serta diharuskan mencuci tangan menggunakan sabun atau memakaihand sanitizer sebelum masuk kelas. Setiap siswa dan guru yang hendak masuk ke lingkungan sekolah diperiksa suhu tubuhnya oleh Tim Gugus Pencagahan Covid-19. Pembelajaran pun dilaksanakan secara singkat hanya sekitar dua jam per harinya dengan jumlah siswa terbatas yakni maksimal 18 orang per kelas.

Uji Coba PTM Tahap I dan Tahap II berjalan lancar dengan mendapat pantauan ketat dari pihak Dinas Kesehatan Kota Tegal. MAN Kota Tegal sempatmendapat lampu hijau untuk melaksanakan uji coba PTM Tahap III. Namun, rencana Uji Coba PTM Tahap III yang sedianya dilangsungkan awal tahun ajaran baru, Agustus ini, menjadi berantarakan. Kasus Covid-19 yang kembali meningkat pada Juni dan Juli lalu membuat pemerintah kembali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara darurat. Kegiatan KBM bagi siswa di seluruh Indonesia sontak kembali dilangsungkan secara online.

“Sebenarnya bukan hanya siswa yang rindu sekolah, tapi guru juga rindu mengajar murid-muridnya secara langsung. Ya mari berdoa agar semua ini segera berakhir. Selain berdoa kita juga wajib berikhtiar, salah satunya dengan vaksinasi,” ujar guru Bahasa Indonesia MAN Kota Tegal, Retnowati, S.Pd.

AYAM BAKAR DAN MARTABAK MANIS, WUJUD TOLERANSI DI TENGAH PANDEMI

Caption: Rumah keluarga Rakim (paling kiri) bercat hijau, hanya berjarak beberapa langkah dari kediaman Rahayu Dwi Martani (dua dari kanan) dengan gerbang coklat di Jl Imam Bonjol RT 1/RW 16, Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Foto diambil 20 Juli 2021.
Rumah keluarga Rakim (paling kiri) bercat hijau, hanya berjarak beberapa langkah dari kediaman Rahayu Dwi Martani (dua dari kanan) dengan gerbang coklat di Jl Imam Bonjol RT 1/RW 16, Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Foto diambil 20 Juli 2021.

Oleh: Hanun Aishy Marwa

Ketika langit tampak kemerahan dan azan maghrib mulai berkumandang, seorang perempuan paruh baya mengayunkan kaki mendekati sebuah rumah bercat hijau. Rambutnya lurus. Usianya 45 tahun. Dia kemudian mencantolkan kantong plastik di ujung pagar besi rumah bercat hijau tersebut.

Tak sampai hitungan menit, perempuan tersebut bergegas meninggalkan lokasi itu. Ia lalu kembali ke kediamannya yang jaraknya hanya lima meter dari rumah bercat hijau tersebut. Tangannya lantas dengan sigap merogoh ponsel dari saku bajunya lalu mengirim sebuah pesan pendek kepada kepala keluarga yang menghuni rumah bercat hijau tadi.

“Ada makanan di pintu gerbang. Silahkan dimakan. Semoga lekas membaik,” tulis perempuan tadi.

Perempuan tersebut adalah Rahayu Dwi Martani. Ibu dua anak yang sehari-harinya berprofesi sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Kota Tegal ini sudah seperti saudara bagi keluarga Rakim, si empunya rumah bercat hijau. Padahal, kedua keluarga ini tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali. Mereka bahkan berbeda keyakinan. Keluarga Rakim beragama Islam. Sedangkan keluarga Dwi dan suaminya Aris Kusmayadi memeluk agama Kristen.

Tapi perbedaan itu tak menjadi penghalang bagi kedua keluarga ini untuk hidup rukun nan harmonis dalam bertetangga di Jl. Imam Bonjol No. 10 RT 1/RW 16, Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Seperti yang ditunjukkan Dwi pada Sabtu (17/07/ 2021) petang tersebut.

“Anak-anak, ini ada kiriman ayam bakar dari Budhe Dwi. Ayo dimakan,” ujar Rakim setelah membuka bungkusan kertas minyak dari kantong plastik kirimkan Dwi. Ketiga anak Rakim pun lantas menyantap ayam bakar itu dengan lahapnya.

Saking dekatnya, ketiga anak Rakim dan istrinya Hemi Astuti memanggil Dwi dengan panggilan “budhe”. Dalam Bahasa Jawa, Budhe berarti kakak perempuan dari ayah atau ibu.

Budhe Dwi mungkin sudah puluhan, bahkan ratusan kali, mengirimi makanan kepada keluarga Rakim. Tapi kiriman-kiriman makanannya pada pertengahan Juli kemarin benar-benar sangat berarti bagi Rakim sekeluarga yang sedang menjelani isolasi mandiri karena virus Corona.

Rakim sekeluarga harus menjelani isolasi mandiri setelah ibunya, Ratimah, meninggal dunia karena dinyatakan positif Covid-19 pada awal Juli lalu. Sebelum diketahui terpapar Covid-19, almarhumah Mbah Mah, sapaan Ratimah, sempatdirawat di rumah Rakim selama kurang lebih dua pekan. Setelah Mbah Mah meninggal dunia, ujian bagi keluarga Rakim ternyata masih berlanjut. Rakim sekeluarga harus menjalani isolasi mandiri.

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Rakim mengalami positif Covid-19. Sedangkan istri dan ketiga anaknya negatif Covid-19. Namun, seluruh keluarga diminta untuk isolasi mandiri selama kurang lebih 14 hari.

Dalam proses isolasi mandiri ini, para tetangga bersedia mencukupi kebutuhan makan dan minum keluarga Rakim. Salah satu yang menunjukkan perhatian besar adalah Dwi. Selain membawakan lauk pauk, Dwi dan suaminya Aris Kusmayadi, serta kedua anaknya, juga beberapa kali mengirim camilan seperti martabak manis.

“Mereka [Dwi sekeluarga] juga memberikan alat saturasi pernapasan dan membelikan vitamin-vitamin. Menyediakan dua tabung oksigen di saat krisis oksigen terjadi di berbagai daerah termasuk di Tegal. Bahkan hampir tiap jam menanyakan kondisi kesehatan kami sekeluarga lewat ponsel selama kami isolasi mandiri,” ujar Rakim yang sehari-hari bekerja sebagai guru ASN ini.

Perhatian besar para tetangga lainnya itu membuat Hemi, istri Rakim menjadi terharu. Dia sebelumnya merasa waswas keluarganya akan dijauhi masyarakat jika mereka tahu suaminya positif terpapar Covid-19. Namun, kekhawatiran itu nyatanya tidak terbukti karena perhatian besar dari para tetangga, termasuk Dwi yang berbeda keyakinan.

“Pikiran saya sudah ke mana-mana ketika kami semua harus diisolasi mandiri. Mau cari makannya gimana? Terus juga kepikiran apakah tetangga pada mau membantu? Ternyata bantuan mereka sangat luar biasa. Bu Dwi orang pertama yang menyetok kebutuhan kami,” ungkap Hemi.

Toleransi antarumat beragama di Mejasem Barat sangatlah tinggi. Tak hanya ditunjukkan dengan berkirim makanan, mereka juga saling mengirim ucapan selamat ketika masing-masing merayakan hari besar keagamaan.

“Kalau Natal kami ke rumah Budhe Dwi, sebaliknya juga Budhe Dwi selalu datang ke rumah kami dan membawa kue-kue saat kami merayakan Lebaran,” ujar Hemi.

Ketua RW 16 Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Budiono, mengatakan toleransi di lingkugannya sangat terjaga selama ini, bahkan selama Pandemi. Perhatian dan kepedulian terhadap sesama dilakukan warga terhadap keluarga yang menjalani isolasi mandiri karena pandemi.

“Tidak peduli agamanya apa, semua masyarakat saling membantu. Di sini, praktik toleransi dan moderasi beragama sangat tinggi. Pandemi tidak bisa menghentikan toleransi dan moderasi beragama bagi masyarakat di sini. Bahkan semakin solid,” jelas Budiono.

PUPUT DAN PERUBAHAN KARAKTER SEJAK PANDEMI

Tak ada seorang pun yang pernah menyangka bahwa dunia akan berubah begitu drastis bak membalikkan telapak tangan. Pandemi Covid-19 yang mewabah dunia mengubah cara-cara hidup baru umat manusia. Virus yang berasal dari Kota Wuhan itu seakan-akan membuka mata dunia bahwa umat manusia perlu beradaptasi dengan cara-cara baru dalam menjalani kehidupan. Entah itu sektor ekonomi, pemerintahan maupun pendidikan. Bahkan karakter manusia pun ‘dipaksa’ berubah.

Pagi itu, sekitar pukul tujuh pagi, Puput bergegas keluar dari kamar menuju teras rumah. Ada tumpukan-tumpukan buku yang dibawa tangan kanannya, dan sebuah gawai keluaran tahun 2010-an yang berada digenggaman tangan kirinya. Di teras itu, gadis berambut ikal ini beradaptasi dengan cara belajar baru sejak pandemi Covid-19 mewabah negeri ini. “Di teras sinyal lebih stabil,” kata perempuan usia 16 tahun itu, Sabtu (15/8/2020).

Tampkanya Puput begitu antusias mengikuti pembelajaran daring melalui e-Learning. Materi-materi yang diberikan guru diperhatikan dengan seksama. Tugas yang diberikan pun ia selesaikan dengan penuh ketelitian layaknya seorang pembuat anyaman. Sesekali ia meletakkan gawainya untuk memberikan jeda istirahat kedua matanya yang belok. Secangkir teh hangat menemani setiap pagi harinya. Begitulah cara Puput menikmati pembelajan berbasis internet sejak pandemi.

Belajar menuju arah yang lebih baik itu banyak pintu, banyak jalan, dan dapat dari hal apapun, termasuk belajar dari pandemi Covid-19. Puput, ramaja usia belasan tahun itu, awalnya tak punya kebiasaan menabung. Pandemi mengajarinya bahwa kebutuhan hidup itu harus dipersiapkan karena hal-hal tak terduga dapat muncul kapanpun diluar rencana umat manusia. “Sejak pandemi ini, saya semakin sadar pentingnya menabung,” terangnya.

Kebutuhan akan kuota internet yang meningkat tajam dari 100 hingga 200 persen untuk kebijakan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), memaksa dirinya untuk mengubah karakternya menjadi rajin dan gemar menabung. Apalagi usaha orang tuanya juga terdampak begitu drastis sejak pandemi berlangsung. “Saya mulai latihan menyisihkan uang jajan untuk memenuhi kebutuhan kuota sendiri. Kan, kondisi ekonomi orang tua sedang terpuruk,” ujar siswi kelas XII itu.

Ya, Puput adalah satu dari sekian banyak pelajar di negeri ini yang berusaha sekuat tenaga untuk menikmati pembelajaran daring dengan segala keterbatasannya. Ia memiliki cara pandang sendiri untuk memotret sebuah peristiwa. Pada akhirnya, pandemi tak hanya mengubah cara hidup umat manusia, tapi juga memaksa untuk memiliki karakter yang lebih positif.

Penulis: Serly Alia Putri, Siswi Kelas XII IPS 5

NOKTAH ITU BERNAMA DINDA

“Es… es… es… es…Pak, Bu, Mas, Mbak…”

Di sebuah sudut kota Tegal, seorang perempuan usia belasan tahun tampak sedang mengusap keringat yang menetes dari wajahnya. Parasnya tampak kusam. Sesekali ia memanggil-manggil orang yang lalu-lalang sembari menunjuk deratan minuman yang ada dihadapannya. Saat itu, jarum jam dinding tepat menunjukkan pukul satu siang.

Masalah selalu mewarnai kehidupan dengan caranya sediri untuk menguji manusia. Pengorbanan pun harus dicurahkan sekuat tenaga untuk menghadapinya. Sikap mengeluh tidak akan mengubah apapun. Semangat dan kerja keraslah kuncinya. Prinsip inilah yang begitu disadari oleh Dinda (17), remaja RT 07 RW 07 Margadana Kota Tegal. Anak tiga bersaudara dari pasangan Yeni (40) dan Nur Rohman (45) itu rela bekerja sampingan untuk mengurangi beban orang tuanya.

Semenjak pandemi Covid-19 yang menjangkit tanah air pada Maret lalu, pendapatan orang tua Dinda sebagai perantau tak menentu, bahkan menurun drastis. Penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari benar-benar terdampak. Jangankan untuk pemenuhan kebutuhan satu pekan ke depan, untuk sekadar bertahan hidup pada hari itu saja sudah perlu cucuran darah. “Apapun patut disyukuri,” kata gadis bertubuh mungil itu, Sabtu (15/8/2020).

Bagi gadis seusianya, Dinda adalah sebuah noktah yang bergerak menjadi garis, sebuah bentuk geometri. Betapa pentingnya noktah itu. Saat melukis, kita akan memulainya dengan sebuah noktah di atas kanvas. Saat menggambar sebuah bidang, noktah akan menjadi titik awal bermulanya. Melalui noktah yang menjadi garis dan berkembang menjadi sebuah bidang, kita menyaksikan jajar genjang, lingkaran, kubus, segitiga, dan bahkan bumi yang kita injak ini.

Dinda adalah satu dari sekian anak usia sekolah di Bumi Pertiwi yang memilih jalur berbeda, memilih tetap berdiri meski pada masa pandemi. Ada dua beban berat di pundak ramaja kencur itu: belajar secara daring dan bekerja. “Seadanya tak apa meski menjadi penjaga warung es,” terang perempuan beriris cokelat itu. Tumpukan buku dan gawai jadul tertata rapi disamping tempat duduknya. Sembari menawari berbagai varian es yang dijualnya, Dinda sesekali memantau gawainya untuk memantau aktivitas pembelajaran di e-Learning sekolah. “Sulit dan lelah, tapi harus tetap dijalani dengan hati yang tulus dan mantap,” imbuhnya.

Dengan segala keterbatasan finansialnya, Dinda mengingatkan kita pada film “Say I Love You” garapan Faozan Rizal. Betapa pentingnya menyeimbangkan tanggung jawab belajar dan bekerja secara bersamaan di usia dini dalam menggapai mimpi dan meraih cita-cita.

Dinda begitu mencintai keluarganya. Tinggal berdua dengan adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, perempuan berkulit sawo matang itu menjadi partner terbaik Atfal (11). Ditengah pandemi dengan belajar yang serba daring, Ia adalah fasilitator dan motivator terbaik adiknya. “Jika tak mampu memberikan manfaat kepada orang banyak, setidaknya kita mulai dari keluarga kecil ini,” jelasnya penuh penghanyatan.

Gadis yang saat ini duduk di bangku kelas XII itu percaya bahwa dalam setiap masalah pasti ada jalan keluarnya meski membutuhkan sebuah totalitas pengorbanan untuk menghadapinya. Ia yakin, kerja kerasnya pasti membuahkan hasil yang baik. “Tak ada gunanya mengeluh,” pungkasnya.

Penulis: Risa Nurhaliza, Siswi Kelas XII IPS 5

JANGAN ADA ‘VAKSIN’ SPIRIT PANDEMI COVID-19

Siang itu, resonansi dari sudut-sudut bilik rumah warga muncul secara bersamaan. Semuanya membentuk sebuah harmoni yang semakin lama justru semakin menghadirkan keindahan. Rupanya jutaan pasang mata menyaksikan hal yang sama, melihat apa yang terjadi di Bandung. Ya, Indonesia menjadi tuan rumah Uji Klinis Tahap 3 Vaksin Covid-19. Presiden Joko Widodo menjadi ikon momen bersejarah itu. Ekspektasi warga layaknya snowball, semakin tayangan itu disaksikan, semakin besar harapan untuk bangkit dan terbebas dari pandemi yang menjangkit negara-negara di penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Di rumah kecil yang tak jauh dari jalan raya itu, seorang gadis belasan tahun menyaksikan apa yang menjadi headline di stasiun televisi lokal maupun nasional. Winda Pujianti Santoso namanya, mengamati secara seksama setiap jengkal yang terjadi di ruang-ruang Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Sebanyak 1.620 relawan mendarmabaktikan dirinya atas nama amal saleh kemanusiaan.

Tak ada satu negara pun di dunia yang sudah bersiap menghadapi pandemi ini, bahkan sekelas negara adikuasa sekalipun. Tak dapat dipungkiri bahwa vaksin Covid-19 itu menjadi barang superlangka yang begitu tak ternilai harganya untuk saat ini. Namun bagi Winda, begitu sapaan akrabnya, pandemi ini mengajari banyak hal. “Semakin sadar, betapa pentingnya selalu menjaga kebersihan dan kesehatan kapanpun dan dimanapun,” terang gadis berkacamata nan berparas ayu ini, Selasa (11/8/2020).

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan, tak terasa sudah hampir setengah tahun Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berlangsung di negeri ini. Siswi kelas XII IPS di salah satu sekolah negeri di Kota Tegal itu berharap, pandemi Covid-19 segera sirna dan bumi pulih kembali secara perlahan demi perlahan. Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) mulai digiatkan dan dikampanyekan secara terus-menerus dan konsisten. Namun, kelengahan personal maupun komunal yang membahayakan kesehatan diri sendiri dan orang yang jangan pernah dibiarkan.

Pandemi Covid-19 bukan hanya soal kesehatan, tapi juga tentang rasa kesadaran bahwa pendidikan anak adalah milik bersama. Betapa banyak orang tua yang selalu bersifat permisif terhadap perkembangan pendidikan anaknya, sehingga pendidikan hanya dibebankan kepada guru semata. Semua pihak baik pemerintah, guru, orang tua maupun masyarakat wajib terlibat didalamnya sebagai satu kesatuan yang untuh untuk mencapai tujuan pendidikan. Bersama-sama bahu-membahu untuk menunaikan janji dan amanat kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. “Saat belajar serba daring, dukungan penuh dan motivasi dari orang tua begitu penting dan bararti,” jelas perempuan kelahiran Tegal 17 tahun silam.

Perkembangan teknologi yang begitu masif dan mendunia menjadi momentum yang tepat untuk para pelajar meningkatkan kompetensi dan menemukan cara belajar yang pas sesuai diri sendiri. Mewabahnya virus yang berasal dari Kota Wuhan itu ‘memaksa’ banyak pelajar untuk benar-benar melek teknologi tanpa terkecuali. Terlepas dari sisi negatifnya, teknologi akan menjadi begitu berdampak positif jika digunakan secara tepat dan oleh orang yang tepat pula. “Melalui internet, pintu pengetahuan terbuka luas dengan cara yang cepat dan lintas batas. Saya juga mulai belajar berbagai fitur atau aplikasi yang dapat menunjang pembelajaran,” paparnya.

Akhirnya semua mesti menyadari, betapa pentingya vaksin Covid-19 secara medis untuk mencegah atau menyembuhkan mereka yang terpapar. Namun, spirit ke arah yang positif dari pandemi ini jangan pernah hilang, dan jangan pernah disembuhkan menggunakan ‘vaksin’ apapun.

Penulis: Moh. Caesar Febriano S., Siswa Kelas XI IPS 2

KROMO YANG HILANG

KROMO YANG HILANG

Dunia ini memang begitu indah ketika sang mentari hendak muncul menyinari seluruh makhluk yang ada di muka bumi. Matahari indah dengan siangnya, bintang dan bulan indah dengan malamnya. Begitulah bahasa semesta pada manusia. Seperti halnya manusia yang memperlakukan sesama dengan bahasa dan tutur kata, pelan namun penuh makna. Tak seperti serigala yang langsung memangsa tanpa menyapa.

*** Lanjutkan membaca →

MENYEMAI NILAI-NILAI ANTIKORUPSI DI LINGKUNGAN KELUARGA

MENYEMAI NILAI-NILAI ANTIKORUPSI DI LINGKUNGAN KELUARGA

Korupsi dapat merusak potensi ekonomi negara dan menjadi virus yang meruntuhkan moralitas bangsa. Namun faktanya, kasus korupsi seolah-olah menjadi penyakit yang membudaya di negeri ini, dengan melibatkan berbagai aktor baik elite politik, kaum terdidik hingga pengusaha. Keberadaannya sudah menjadi hal yang tak asing di negeri ini. Masalah korupsi menjadi topik yang selalu diperbincangkan di berbagai media, baik elektronik maupun cetak. Lanjutkan membaca →

ISLAM, RADIKALISME, DAN AGAMA RAHMAT

Dewasa ini paham radikal yang mengarah pada tindakan terorisme begitu mudah dijumpai baik skala regional, nasional bahkan internasional. Tindakan itu seakan-akan menjadi menu utama di berbagai media cetak dan elektronik yang dapat disaksikan oleh semua usia dan latar belakang. Ironisnya tindakan tersebut atas nama agama.

Dalam sejarah perkembangan aliran Kalam, bibit gerakan pemikiran Islam radikal dapat ditelusuri melalui kehadiran Khawarij. Khawarij merupakan salah satu dari tiga aliran Kalam yang lahir karena faktor politik yang berkembang ke arah teologi.

Mereka tidak sepakat dengan semua keputusan dan hasil tahkim (arbitrase) yang ditempuh oleh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan dalam pertempuran Shiffin. Puncaknya mereka menghukumi semua pihak yang terlibat termasuk Abu Musa Al-Asy’ari dan Amr bin Ash sebagai Muslim yang berdosa besar dan berstatus kafir. Lebih jauh mereka juga menghalalkan darah dan harta semua orang yang tidak bersedia untuk bergabung dan mengikuti pahamnya.

Meskipun saat ini aliran Khawarij secara legal-formal sukar ditemui, pemikirannya masih terus hidup dan bermetamorfosis dalam berbagai bentuk kelompok Islam. Corak pemikirannya yang fanatik, tekstual, fundamental serta gemar menyesatkan dan mengafirkan sangat mudah ditemui. Dengan demikian, kehadiran Khawarij sebagai salah satu aliran Kalam awal merupakan bibit dari semua gerakan Islam radikal yang hadir pada saat ini.

Radikalisme
Radikaslime merupakan paham atau sikap ekstrem yang menghendaki perubahan dan pembaharuan sosial-politik secara drastis yang ditempuh dengan cara-cara kekerasan. Radikalisme agama merujuk pada fondasi agama (akidah) yang sangat mendasar dengan spirit fanatisme yang sangat tinggi, sehingga menggerakkan penganutnya untuk melakukan tindak-tindak kekerasan untuk mencapai tujuannya.

Kelompok radikal kerap menggunakan agama sebagai alat pembenaran atas semua tindakannya. Mereka mengklaim bahwa agama dan kelompoknya yang paling benar, sedangkan lainnya adalah salah. Untuk mengaktualisasikan paham keagamaan yang dianutnya, mereka rela melakukan apapun agar pahamnya diterima meskipun dengan cara-cara diluar nalar dan tidak elegan. Aksi teror, bom bunuh diri, aksi penyerangan dan sebagainya menjadi contoh tindakan tersebut.

Radikalisme pada level terendah dapat mengganggu keharmonisan intra dan antarumat beragama. Klaim bid’ah, sesat, kafir kepada kelompok yang berbeda akan melahirkan keresahan dan ketidaknyamanan. Pada level tertinggi, tindakan radikal mengarah pada aksi terorisme yang dapat mengancam stabilitas, integritas dan keamanan negara. Alhasil aksi terorisme itu pun akan membidani peperangan antarkelompok sehingga menimbulkan rasa tidak aman serta mengancam jiwa dan raga setiap individu.

Kelompok radikal sangat intens mengampanyekan ideologinya sehingga tidak sedikit kaum muda yang terpengaruh oleh ideologi semu tersebut. Pahala dan surga menjadi iming-iming untuk merekrut dan melancarkan gerakan tersebut. Banyak anak muda yang mendukung gerakan itu dan bersedia menjadi pelaku bom bunuh diri. Ironinya mereka belum mencapai level alim dalam bidang agama. Model gerakan semacam ini berjalan sangat masif, terorganisasi, dan terkoordinasi dengan sangat baik. Akibatnya hal tersebut dapat memengaruhi beberapa lapisan masyarakat.

Fakta merebaknya gerakan radikal harus menjadi perhatian serius yang mesti disikapi secara bijak oleh seluruh umat Muslim. Mengampanyekan Islam sebagai agama rahmat bisa menjadi solusi alternatif untuk meminimalisir paham radikal.

Islam Agama Rahmat
Rahmat secara etimologis berarti belas kasih. Islam agama rahmat adalah ide menyebarkan Islam sebagai agama yang senantiasa membawa spirit belas kasih. Hal itu senada dengan salah satu alasan pengutusan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi semesta alam (QS. Al-Anbiya:107). Bahkan Rasulullah menegaskan dalam sebuah hadis bahwa pengutusan dirinya adalah untuk menyempurnakan akhlak.

Uraian di atas memberikan gambaran bahwa sejatinya wajah Islam adalah santun, lembut, elegan, menyejukkan, dan menenteramkan jiwa. Aksi ekstrem dalam berdakwah yang dilakukan oleh kelompok radikal sama sekali tidak merefleksikan wajah Islam yang penuh rahmat.

Hal yang disalahpahami oleh kelompok radikal adalah makna dakwah itu memaksa dan bukan mengajak. Padahal dakwah secara bahasa berasal dari kata da’a yang berarti mengajak. Kelompok yang berbeda wajib mengikuti jalan pikiran mereka. Islam sendiri telah mengatur cara mengajak (dakwah) sebagaimana dalam QS. An-Nahl ayat 125. Pertama, mengajak itu dengan cara hikmah (bijaksana). Kedua, mengajak itu dengan memberikan pelajaran yang baik. Ketiga, jika terdapat perselisihan dalam mengajak, bantahlah dengan cara yang baik.

Keputusan apakah individu atau kelompok berbeda akan mengikuti pahamnya adalah murni hak prerogatif Tuhan. Tuhan secara bebas dapat memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, titik tekan makna dakwah adalah mengajak dengan cara yang baik dan benar. Adapun kemauan seseorang untuk mengikuti jalan Islam ditentukan oleh hidayah Allah SWT.

Melawan paham radikal dengan menampilkan wajah Islam yang penuh kasih menjadi tugas berat setiap Muslim. Stereotip Islam sebagai agama pedang, perang, dan pertumpahan darah harus segera diubah menjadi agama rahmat serta penuh cinta kepada seluruh semesta alam.

Penulis: Rindiyani, Siswi Kelas XII IIK