AYAM BAKAR DAN MARTABAK MANIS, WUJUD TOLERANSI DI TENGAH PANDEMI

Caption: Rumah keluarga Rakim (paling kiri) bercat hijau, hanya berjarak beberapa langkah dari kediaman Rahayu Dwi Martani (dua dari kanan) dengan gerbang coklat di Jl Imam Bonjol RT 1/RW 16, Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Foto diambil 20 Juli 2021.
Rumah keluarga Rakim (paling kiri) bercat hijau, hanya berjarak beberapa langkah dari kediaman Rahayu Dwi Martani (dua dari kanan) dengan gerbang coklat di Jl Imam Bonjol RT 1/RW 16, Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Foto diambil 20 Juli 2021.

Oleh: Hanun Aishy Marwa

Ketika langit tampak kemerahan dan azan maghrib mulai berkumandang, seorang perempuan paruh baya mengayunkan kaki mendekati sebuah rumah bercat hijau. Rambutnya lurus. Usianya 45 tahun. Dia kemudian mencantolkan kantong plastik di ujung pagar besi rumah bercat hijau tersebut.

Tak sampai hitungan menit, perempuan tersebut bergegas meninggalkan lokasi itu. Ia lalu kembali ke kediamannya yang jaraknya hanya lima meter dari rumah bercat hijau tersebut. Tangannya lantas dengan sigap merogoh ponsel dari saku bajunya lalu mengirim sebuah pesan pendek kepada kepala keluarga yang menghuni rumah bercat hijau tadi.

“Ada makanan di pintu gerbang. Silahkan dimakan. Semoga lekas membaik,” tulis perempuan tadi.

Perempuan tersebut adalah Rahayu Dwi Martani. Ibu dua anak yang sehari-harinya berprofesi sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Kota Tegal ini sudah seperti saudara bagi keluarga Rakim, si empunya rumah bercat hijau. Padahal, kedua keluarga ini tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali. Mereka bahkan berbeda keyakinan. Keluarga Rakim beragama Islam. Sedangkan keluarga Dwi dan suaminya Aris Kusmayadi memeluk agama Kristen.

Tapi perbedaan itu tak menjadi penghalang bagi kedua keluarga ini untuk hidup rukun nan harmonis dalam bertetangga di Jl. Imam Bonjol No. 10 RT 1/RW 16, Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Seperti yang ditunjukkan Dwi pada Sabtu (17/07/ 2021) petang tersebut.

“Anak-anak, ini ada kiriman ayam bakar dari Budhe Dwi. Ayo dimakan,” ujar Rakim setelah membuka bungkusan kertas minyak dari kantong plastik kirimkan Dwi. Ketiga anak Rakim pun lantas menyantap ayam bakar itu dengan lahapnya.

Saking dekatnya, ketiga anak Rakim dan istrinya Hemi Astuti memanggil Dwi dengan panggilan “budhe”. Dalam Bahasa Jawa, Budhe berarti kakak perempuan dari ayah atau ibu.

Budhe Dwi mungkin sudah puluhan, bahkan ratusan kali, mengirimi makanan kepada keluarga Rakim. Tapi kiriman-kiriman makanannya pada pertengahan Juli kemarin benar-benar sangat berarti bagi Rakim sekeluarga yang sedang menjelani isolasi mandiri karena virus Corona.

Rakim sekeluarga harus menjelani isolasi mandiri setelah ibunya, Ratimah, meninggal dunia karena dinyatakan positif Covid-19 pada awal Juli lalu. Sebelum diketahui terpapar Covid-19, almarhumah Mbah Mah, sapaan Ratimah, sempatdirawat di rumah Rakim selama kurang lebih dua pekan. Setelah Mbah Mah meninggal dunia, ujian bagi keluarga Rakim ternyata masih berlanjut. Rakim sekeluarga harus menjalani isolasi mandiri.

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan Rakim mengalami positif Covid-19. Sedangkan istri dan ketiga anaknya negatif Covid-19. Namun, seluruh keluarga diminta untuk isolasi mandiri selama kurang lebih 14 hari.

Dalam proses isolasi mandiri ini, para tetangga bersedia mencukupi kebutuhan makan dan minum keluarga Rakim. Salah satu yang menunjukkan perhatian besar adalah Dwi. Selain membawakan lauk pauk, Dwi dan suaminya Aris Kusmayadi, serta kedua anaknya, juga beberapa kali mengirim camilan seperti martabak manis.

“Mereka [Dwi sekeluarga] juga memberikan alat saturasi pernapasan dan membelikan vitamin-vitamin. Menyediakan dua tabung oksigen di saat krisis oksigen terjadi di berbagai daerah termasuk di Tegal. Bahkan hampir tiap jam menanyakan kondisi kesehatan kami sekeluarga lewat ponsel selama kami isolasi mandiri,” ujar Rakim yang sehari-hari bekerja sebagai guru ASN ini.

Perhatian besar para tetangga lainnya itu membuat Hemi, istri Rakim menjadi terharu. Dia sebelumnya merasa waswas keluarganya akan dijauhi masyarakat jika mereka tahu suaminya positif terpapar Covid-19. Namun, kekhawatiran itu nyatanya tidak terbukti karena perhatian besar dari para tetangga, termasuk Dwi yang berbeda keyakinan.

“Pikiran saya sudah ke mana-mana ketika kami semua harus diisolasi mandiri. Mau cari makannya gimana? Terus juga kepikiran apakah tetangga pada mau membantu? Ternyata bantuan mereka sangat luar biasa. Bu Dwi orang pertama yang menyetok kebutuhan kami,” ungkap Hemi.

Toleransi antarumat beragama di Mejasem Barat sangatlah tinggi. Tak hanya ditunjukkan dengan berkirim makanan, mereka juga saling mengirim ucapan selamat ketika masing-masing merayakan hari besar keagamaan.

“Kalau Natal kami ke rumah Budhe Dwi, sebaliknya juga Budhe Dwi selalu datang ke rumah kami dan membawa kue-kue saat kami merayakan Lebaran,” ujar Hemi.

Ketua RW 16 Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Budiono, mengatakan toleransi di lingkugannya sangat terjaga selama ini, bahkan selama Pandemi. Perhatian dan kepedulian terhadap sesama dilakukan warga terhadap keluarga yang menjalani isolasi mandiri karena pandemi.

“Tidak peduli agamanya apa, semua masyarakat saling membantu. Di sini, praktik toleransi dan moderasi beragama sangat tinggi. Pandemi tidak bisa menghentikan toleransi dan moderasi beragama bagi masyarakat di sini. Bahkan semakin solid,” jelas Budiono.