VAKSINASI, FOBIA JARUM SUNTIK, DAN KERINDUAN BERSEKOLAH

Salah satu siswi MAN Kota Tegal saat melakukan pendaftaran vaksinasi massal COVID-19 di lingkungan madrasah, Senin, 2 Agustus 2021.

Oleh: Dewi Nur Aghni Azzahro

Langkah kaki Ulia Rahmania terhuyung ketika menuju ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) di MAN Kota Tegal, Selasa (4/8/2021) pagi. Sebenarnya, siswa kelas XII MIPA 5 tersebut sudah sarapan nasi bungkus dengan lauk lele goreng plus sambal. Tapi kakinya seakan lemas tak berdaya ketika harus masuk ke ruang UKS yang menjadi tempat berlangsungnya vaksinasi siswa.

Ulia memang ciut nyali setiap kali berhadapan dengan jarum suntik. Sejak kecil, dirinya tak pernah mau disuntik oleh dokter. Namun, pagi itu, gadis berusia 16 tahun tersebut harus melawan rasa takutnya dengan jarum suntik demi menjalani vaksinasi jenis sinovac untuk pencegahan virus Corona ini.

Ketika dokter menghujamkan jarum suntik berdiameter 0,05 inchi ke lengan kirinya, sebenarnya Uliaingin beteriak sekeras-kerasnya. Tapi dia menahan hasratnya itu sekuat tenaga. Ulia tak ingin kehilangan muka di depan dokter yang menyuntiknya. Ia juga tidak mau menanggung malu jika teriakannya sampai didengar siswa-siswa lain yang mengantre di luar ruang UKS.

Hanya, Ulia tak bisa menyembunyikan wajah pucat pasinya. Matanya dipejamkan erat-erat. Sesekali Ulia menggertakkan gigi sambil menahan fobia akan jarum suntik. Hanya itu bisa dia lakukan untuk menenangkan diri, padahal hatinya terasa sedang dilempar granat.

“Sebenarnya takut, tapi kalau tidak vaksin, nanti enggak sekolah-sekolah,” ujar Ulia dengan polos.

Ulia dan siswa-siswa MAN Kota Tegal lain menyelipkan harapan besar ketika menjalankan vaksinasi itu. Mereka yakin vaksinasi ini merupakan jalan awal bisa kembali bersekolah dengan pembelajaran tatap muka (PTM). Hampir dua tahun lamanya, Ulia dan siswa lain di MAN Kota Tegal, bahkan di seluruh Indonesia, tak bisa menjalankan PTM secara normal. Musibah penyebaran virus Corona yang mematikan itu menghentikan kegiatan PTM.

Vaksinasi dosis pertama bagi siswa MAN Kota Tegal dilaksanakan selama 2-4 Agustus 2021. Sebanyak 369 dari 1.180 seluruh siswa MAN Kota Tegal telah mendapat vaksin dosis pertama. Dengan vaksinasi ini, diharapakan meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah diserang Covid-19.

“Semua guru telah divaksin, kini giliran siswa. Jika semua siswa dan guru selesai divaksin, harapannya tentu PTM bisa dilaksanakan secepatnya,” jelas Wakil Kepala MAN Kota Tegal bagian Kurikulum, Turati, M.Si.

Ya, rindu sekolah. Begitulah ungkapan perasaansebagian besar siswa MAN Kota Tegal. Para siswa ini mengaku sudah bosan dengan pembelajaran daring dan ingin sesegera mungkin diadakan PTM. Karena bagi mereka, secanggih apa pun media dan model pembelajaran daring, tetap tidak bisa lebih leluasa dibandingkan pembelajaran tatap muka. Siswa-siswa tersebut juga tidak bisa berinteraksi dengan langsung dengan guru maupun teman-teman.

Salah satu siswa yang mengalami kendala saat pembelajaran daring adalah Nurul Faradilah. Siswa kelas XII MIPA 5 ini harus keluar rumah, berlari ke sana ke mari demi mengakses sinyal internet ketika mengikuti pembelajaran secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting.

“Mungkin teman-teman yang lihat saya tertawa saat itu, karena waktu pelajaran pakai Zoom saya terlihat lari-lari keluar rumah. Susah sih sinyalnya. Untung gurunya enggak lihat dan tidak terlalu memerhatikan saya,” kenang Faradilah.

Sejumlah sekolah di Kota Tegal, termasuk MAN Kota Tegal, sebenarnya telah beberapa kali menjalankan uji coba PTM selama Pandemi Covid-19 ini. Uji Coba PTM Tahap I dilaksanakan pada April dan Tahap II dilaksanakan sebulan kemudian.

Protokol kesehatan (Prokes) pun diterapkan secara ketat pada Uji Coba PTM Tahap I dan Tahap II. Semua guru dan siswa diwajibkan mengenakan masker, serta diharuskan mencuci tangan menggunakan sabun atau memakaihand sanitizer sebelum masuk kelas. Setiap siswa dan guru yang hendak masuk ke lingkungan sekolah diperiksa suhu tubuhnya oleh Tim Gugus Pencagahan Covid-19. Pembelajaran pun dilaksanakan secara singkat hanya sekitar dua jam per harinya dengan jumlah siswa terbatas yakni maksimal 18 orang per kelas.

Uji Coba PTM Tahap I dan Tahap II berjalan lancar dengan mendapat pantauan ketat dari pihak Dinas Kesehatan Kota Tegal. MAN Kota Tegal sempatmendapat lampu hijau untuk melaksanakan uji coba PTM Tahap III. Namun, rencana Uji Coba PTM Tahap III yang sedianya dilangsungkan awal tahun ajaran baru, Agustus ini, menjadi berantarakan. Kasus Covid-19 yang kembali meningkat pada Juni dan Juli lalu membuat pemerintah kembali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara darurat. Kegiatan KBM bagi siswa di seluruh Indonesia sontak kembali dilangsungkan secara online.

“Sebenarnya bukan hanya siswa yang rindu sekolah, tapi guru juga rindu mengajar murid-muridnya secara langsung. Ya mari berdoa agar semua ini segera berakhir. Selain berdoa kita juga wajib berikhtiar, salah satunya dengan vaksinasi,” ujar guru Bahasa Indonesia MAN Kota Tegal, Retnowati, S.Pd.